rheumatoid arthritis

 Rheumatoid Arthritis



Rheumatoid arthritis atau yang lebih dikenal masyarakat awam dengan rematik merupakan penyakit peradangan sistemik yang paling umum ditandai denganketerlibatan sendi yang simetris. Penyakit ini merupakan kelainan autoimun yang menyebabkan inflamasi sendi kronik yang menyerang sistem muskuloskeletal namun dapat melibatkan organ dan sistem tubuh secara keseluruhan, yang ditandai dengan pembengkakan, nyeri sendi serta destruksi jaringan sinoia yang disertai gangguan pergerakan diikuti dengan kematian prematur (Arini dan Eltrikanawati, 2020).


Patofisiologi

Rheumatoid arthritis dapat disebabkan leh pemicu eksternal (seperti merokok, infeksi, dan trauma) memulai reaksi autoimun yang akhrinya mengarah kepada hipertrofi synovialdan inflamasi sendi kronis. Hiperplasial sel synovial dan aktivasi sel endothelia merupakan kejadian awal pada proses patofisiologis dimana terjadi inflamasi yang tidak terkontrol. Selajutnya kartilago dan tulang mengalami destruksi. Faktor genetik dan sistem imun berkontribusi pada proses penyakit ini (Sembiring, 2018).

Penyebab

Penyakit ini dapat disebabkan karena adanya infeksi baik dari bakteri, virus, dan konponennya. Contohnya  kuman Berellia burgdoferi, virus Epstein-Barr, dan Parvo-virus (Yatim, 2006).

Manifestasi Klinis

Menurut Sembiring (2018), gejala-gejala arthritis rheumatoid (AR) antara lain:
  1. Kaku pada pagi hari (morning stiffness)
  2. Artritis pada 3 regio
  3. Artritis pada persendian tangan
  4. Artritis simetris
  5. Nodul reumatoid
  6. Faktor reumatoid
  7. Perubahan gambaran radiologis yang khas pada pemeriksaan rontgen tangan posteroanterior

Pengobatan

Menurut Arini dan Eltrikanawati (2020), pengobatan pada penyakit rheumatoid arthritis dapat diobati dengan menggunakan:

1. Penggunaan OAINS

Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) pada umumnya diberikan pada penderita RA sejak masa dini penyakit yang dimaksud untuk mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi yang sering kali dijumpai walaupun belum terjadi proliferasi sinovial yang bermakna. OAINS terutama bekerja dengan menghambat enzim siklooxygenase sehingga menekan sintesis prostaglandin.
OAINS bekerja dengan cara:
  • Memungkinkan stabilitas membran lisosomal
  • Menghambat pembebasan dan aktivasi mediator inflamasi
  • Menghambat migrasi sel ke tempat peradangan
  • Menghambat poliferasi seluler
  • Menetralisasi radikal oksigen
  • Menekan rasa nyeri

2. Penggunaan DMARD

Terdapat 2 cara pendekatan pemberian DMARD pada pengobatan penderita RA. Cara pertama adalah pemberian DMARD tunggal yang dimulai dari saat yang sangat dini. Cara pendekatan yang lain dengan menggunakan dua atau lebih DMARD secara stimulan atau secara siklik. Beberapa jenis DMARD yang lazim digunakan untuk pengobatan RA adalah klorokuin, slfazalazine, dan D-penicillamine.


Pertanyaan:
  1. Bagaimana pengaruh konsumsi kontrasepsi oral terhadapat aktiitas penyakit rheumatoid arthritis?
  2. Kortokosteroid dapat digunakan dalam pengobatan RA, apakah aman jika pengunaan kortikosteroid terhadap pengobatan dalam waktu yang lama?
  3. Apakah terapi imunosupresif dengan azatioprin dapat digunakan pada wanita hamil?


Sumber:
  • Arini, L. dan T. Eltrikanawati. 2020. Buku Ajar Asuhan Keperrawatan Pada Klien Dengan Rheumathoid Arthritis, Pustaka Galeri Mandiri, Padang.
  • Sembiring, S. 2018. Diagnosis Diferensial Nyeri Lutut, Leutikaprio, Yogyakarta.
  • Yatim, S. 2006. Penyakit Tulang Dan Persendian, Pustaka Populer Obor, Jakarta.


Komentar

  1. Assalamualaikum, wah artikelnya sangat menarik lif.
    Saya izin mencoba menjawab pertanyaan no. 2 mengenai amankah jika kortikosteroid digunakan pada pengobatan RA dalam waktu lama.
    Kortikosteroid merupakan salah satu obat yang dapat digunakan untuk pengobatan RA/rematik. Penggunaan kortikosteroid pada penyakit reumatik sebaiknya dicadangkan untuk keadaan khusus, misalnya apabila obat-obat antiinflamasi lainnya tidak memberikan hasil. Hal ini dikarenakan jika Kortikosteroid digunakan pada jangka panjang dapat menyebabkan osteoporosis, menyebabkan penekanan pertumbuhan dan perkembangan pubertas, dan dapat meningkatkan risiko osteopenia pada pasien yang tidak mampu melakukan olah raga.

    Terimakasih, semoga membantu

    BalasHapus
  2. Terimakasih oom, semoag bermanfaat bagi orang lain juga

    BalasHapus
  3. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻

    BalasHapus
  4. Artikel nya sangat membantu untuk memahami tentang rheumatoid artritis

    BalasHapus
  5. Luar biasa, terima kasih ilmunya saudara Alif, keep it up!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

antihistamin H-2

antihistamin H-1