hematologi (II)
Hematologi (II)
Fibrinolisis
Fibrinolisis juga seperti proses koagulasi, yaitu respon hemostatik yang normal terhadap kerusakan vaskuler. Bersamaan dengan pengaktifan koagulasi juga terjadi pengaktifan salah satu mekanisme antikoagulan alami, yaitu sistem fibrinolitik. Sistem fibrinolitik merupakan suatu rangkaian yang fibrinnya dipecah oleh plasmin menjadi produk degradasi fibrin yang mengganggu aktivitas trombin (Bijanti et al., 2010).
Tiga kelas utama obat fibrinolisis, yaitu:
- Aktivator Plasminogen jaringan (tPA)
- Streptokinase
- Urokinase
Mekanisme
Ketika bekuan darah terbentuk, sejumlah besar plaminogen terperangkap di dalam bekuan darah, beberapa hari kemudian setelah berhentinya pendarahan akibat terbentuknya bekuan darah, maka dilepaskannya tissue Plasminogen Activator (tPA) yang akan mengaktifkan plasminogen menjadi plasmin, yang akan menghilangkan bekuan darah dengan cara menghancurkan fibrin potongan kecil atau Fibrin Degradation Product (FDP) dan juga menguraikan faktor VIII (plasmokinin) dan faktor V (proakselerin) (Firani, 2018).
Anfibrinolitik
Amtifibrinolitik adalah golongan obat yang digunakan untuk meningkatkan hemostatis, terutama ketika fibrinolisis berkontribusi terhadap pendarahan. Obat ini bekerja secara reversibel memblok ikatan lisin pada plasminogen, sehingga mencegah aktivasi plasmin, dan karena itu menghentikan lisis dari fibrin terpolimerisasi (Brown, 2015).
Menurut Satyanegara (2014), obat antifibrinolitik adalah sebagai berikut:
- Epsilon-amino-kaproat (Amicar) 32-48 g/24 jam IV selama 2-3 minggu
- Asam traneksamat 250-500 mg 3-4 kali sehari (oral) atau 250-5000 mg dibagi dalam 2 dosis IV
Mekanisme
- Asam Traneksamat


Asam traneksamat merupakan antifibrinolitik devirat dari asam amino lisin yang bekerja dengan berikatan ke plaminogen, memblok interaksi plasmin dan fibrin, sehingga berfungsi menstabilkan proses koagulasi (Duarsa, 2020).
- Epsilon Aminokaproat

Epsilon
aminokaproat menghambat
konversi plasminogen menjadi plasmin. Epsilon
aminokaproat mengikat ke domain kringle plasminogen dan mencegah
aktivasi ke bentuk plasmin aktif. Berkurangnya kadar kadar plasmin aktif
menghambat degradasi fibrin, Tidak adanya aktivasi plasmin membuat
adanya pengurangan fibrinolisis (Harrigan et al., 2010).
Indikasi
Untuk digunakan pada pasien dengan hemofilia untuk penggunaan jangka
pendek (2-8 hari) untuk mengurangi atau mencegah perdarahan dan
mengurangi kebutuhan untuk terapi penggantian selama dan setelah
pencabutan gigi. Hal ini juga dapat digunakan untuk perdarahan yang berlebihan dalam kasus menstruasi, operasi, atau trauma. Serta digunakan
dalam pengobatan perdarahan pasca operasi berlebihan.
Pertanyaan:
- Seperti yang telah diketahui bahwa antifibronolitik bersifat antagonis terhadap fibrinolisis, pada faktor koagulasi apakah yang dihambah oleh obat antifibronolitik?
- Terapi antifibrinolitik tela terbukti mengurangi resiko pendarahan ulang dalam jangka pendek, bagaimanakah jika penggunaan terapi yang jangka panjangan? Apakah aman?
- Bagaimana penggunaan asam traneksamat dalam masa kehamilan dan menyusui, apakah aman jika dikonsumsi?
Sumber:
- Bijanti, R., M.G.A. Yuliani, R.S. Wahjuni dan R.B. Utomo. 2010. Buku Ajar Patologi Klinik Veteriner, Airlangga University Press, Surabaya.
- Brown, R.S. 2015. Antifibrinolytic Drugs (Aminocaproic Acid and Tranexamic Acid): Treatment Perspectives for Dental Surgery. Current Oral Health Reports. 2(3):143–147.
- Duarsa, G.W.K. 2020. Luts, Prostatis, Bph Dan Kanker Prostat, Airlangga University Press, Surabaya.
- Firani, N.K. 2018. Mengenali Sel-Sel Darah Dan Kelainan Darah, UB Press, Malang.
- Harrigan, M.R., K.F. Rajneesh, A.A. Ardelt dan W.S. Fisher 2010. Shortterm antifibrinolytic therapy before early aneurysm treatment in subarachnoid hemorrhage: Effects on rehemorrhage, cerebral ischemia, and hydrocephalus. Neurosurgery. 67(4):935–939.
- Satyanegara. 2014. Ilmu Bedah Saraf, Edisi V, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Wahh artikel nya bagus sekali. Izin menjawab pertanyaan no. 3. Dari sumber yang saya baca dijelaskan bahwa Penggunaan asam traneksamat pada kehamilan berdasarkan FDA masuk kategori B, yaitu studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Sedangkan berdasarkan TGA masuk kategori A, yaitu berdasarkan pada beberapa penelitian yang telah dilakukan, pemberian asam traneksamat pada kasus perdarahan baik pada awal kehamilan dan ante partum menunjukkan hasil tidak ditemukannya abnormalitas pada janin.
BalasHapusNamun, perlu di ketahui bahwa distribusi asam traneksamat dapat menembus sawar darah plasenta, bahkan konsentrasi obat ini di plasenta sama dengan yang berada di plasma. Oleh karena itu, pemberian obat ini hanya bila kegunaannya lebih bermanfaat dibandingkan risiko.
Kemudian untuk Penggunaan pada Ibu Menyusui
Asam traneksamat disekresikan ke dalam Air Susu Ibu (ASI) dengan konsentrasi sekitar 1 per 100 dari total yang ada di plasma. Konsentrasi ini tidak menimbulkan efek terapeutik. Namun penggunaan asam traneksamat pada ibu menyusui hanya bila diperlukan saja.
Semoha bisa membantu.Terima kasih
Terimakasih atas jawabannya
HapusBagus sekali
Terimakasih atas pemaparan materinya saudara alif, artikel anda sangat menarik, baiklah izinkan saya untuk menjawab permasalahan nmr 2, penggunaan antifibrinolitik jangka panjang dapat menimbulkan gangguan pada mata, sehingga perlu dilakukan Periksakan mata secara teratur. Jika terjadi gangguan penglihatan, segera hentikan penggunaan obat dan segera mencari pertolongan medis.
BalasHapusTerimakasi sudah menjawab
HapusTerimakasi oom lumayan untuk menambah wawasan saya
BalasHapusTerimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻
BalasHapusSangat bermanfaat sekali
BalasHapusGood job alif
BalasHapus